5 cm - Tentang Persahabatan, Mimpi, dan Alasan untuk Terus Menatap Sedikit Lebih Tinggi
Judul: 5 cm
Penulis: Donny Dhirgantoro
Penerbit: P.T. Grasindo
Terbit pertama: Mei 2005
Novel 5 cm merupakan novel pertama Donny Dhirgantoro. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2005 dan kemudian mengalami begitu banyak cetak ulang. Menariknya, Donny menjelaskan bahwa kisah perjalanan menuju Mahameru dalam novel ini berangkat dari pengalaman pribadinya bersama sahabat-sahabatnya.
Tapi kalau melihat sampulnya lalu mengira 5 cm cuma cerita tentang naik gunung, kita mungkin akan sedikit terkecoh.
Gunung memang menjadi panggung terbesar cerita ini. Namun sebenarnya yang sedang didaki oleh tokoh-tokohnya bukan hanya Mahameru. Mereka juga sedang “mendaki” diri sendiri: menghadapi ketakutan, rasa tidak percaya diri, cinta yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan, persahabatan yang terlalu nyaman, dan tentu saja mimpi-mimpi yang sempat terlupakan.
Dan di situlah buku ini menjadi menarik.
Lima Orang yang Terlalu Nyaman Menjadi Sahabat
Cerita berpusat pada lima sahabat: Genta, Arial, Riani, Zafran, dan Ian.
Mereka bukan kelompok sahabat yang anggun, puitis, lalu setiap bertemu membicarakan masa depan bangsa. Jauh sekali. 😄
Obrolan mereka bisa berpindah dari film, musik, filsafat, sepak bola, makanan, cinta, sampai topik-topik yang sama sekali tidak penting dalam hitungan detik. Mereka saling mengejek tanpa ampun, tetapi juga saling mengenal sampai ke bagian terkecil kehidupan masing-masing.
Arial adalah sosok yang cenderung tenang dan sederhana. Riani cerdas, kritis, banyak membaca, serta tidak gampang kalah dalam perdebatan. Zafran hidup di dunianya sendiri sebagai penyair dan anak band yang kadang terlalu puitis untuk ukuran manusia normal. Ian menjadi sumber banyak kelucuan tetapi sekaligus memiliki persoalan kepercayaan diri. Sementara Genta merupakan perekat kelompok—orang yang sering berada di depan ketika teman-temannya membutuhkan seseorang untuk mengambil keputusan.
Justru karena terlalu dekat, muncul satu masalah yang awalnya terdengar aneh:
mereka mulai bosan dengan persahabatan mereka sendiri.
Bukan bosan karena tidak lagi sayang. Sebaliknya, mereka terlalu nyaman.
Hidup mereka seperti berputar di lingkaran yang sama: lima orang, tempat yang sama, candaan yang sama, dan pembicaraan yang semakin sering terasa seperti pengulangan. Pada suatu malam muncul kesadaran bahwa mungkin mereka telah terlalu lama berada di dalam “gua” mereka sendiri.
Akhirnya Genta mengusulkan sesuatu yang cukup ekstrem: untuk sementara mereka tidak bertemu, tidak nongkrong, tidak menelepon, bahkan tidak berkirim SMS. Tujuannya sederhana tetapi menarik—keluar sebentar dari dunia berlima, melihat kehidupan lain, lalu kembali dengan pengalaman dan diri yang berbeda.
Mereka sepakat bertemu kembali pada 14 Agustus.
Dan menurut saya, bagian inilah salah satu gagasan paling bagus dalam 5 cm.
Novel ini seakan mengatakan bahwa kedekatan tidak selalu berarti harus terus-menerus bersama. Kadang kita justru perlu memberikan ruang kepada orang yang kita sayangi untuk bertumbuh.
Ternyata benar. Tiga bulan itu mengubah banyak hal.
Tiga Bulan yang Membuat Mereka Bertemu Diri Sendiri
Perpisahan sementara tersebut membuat masing-masing tokoh mempunyai ruang untuk menjalani kehidupannya sendiri.
Di antara mereka, perkembangan Ian terasa cukup kuat. Pada bagian awal cerita, Ian digambarkan memiliki rasa minder yang cukup besar. Ia bahkan pernah berusaha mendapatkan penerimaan kelompok dengan menjelek-jelekkan seorang teman kepada teman yang lain. Ketika masalah itu akhirnya dibicarakan, Ian mengakui bahwa perilakunya berasal dari ketakutannya tidak diterima oleh kelompok tersebut.
Perlahan Ian bergerak keluar dari pola itu. Ia mulai berjuang menyelesaikan kuliah dan skripsinya, memikirkan masa depannya, serta menemukan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Karena itulah 5 cm tidak benar-benar bercerita tentang “lima sahabat yang kompak”.
Lebih tepatnya, ini cerita tentang lima orang yang belajar bahwa persahabatan yang sehat bukan tempat bersembunyi dari kehidupan, tetapi tempat untuk kembali setelah kita berani menjalani kehidupan kita sendiri.
Itu bedanya.
Lalu Datanglah Sebuah Undangan Misterius
Setelah tiga bulan terpisah, kelima sahabat akhirnya bertemu lagi. Genta membawa sebuah rencana perjalanan yang sebelumnya dirahasiakan.
Dalam perjalanan itu bergabung pula Arinda atau Dinda, adik Arial.
Mereka naik kereta melintasi Jawa, lalu perjalanan perlahan membawa enam anak muda tersebut menuju satu tempat yang jauh lebih besar daripada tongkrongan mereka di Jakarta:
Mahameru.
Puncak tertinggi Pulau Jawa.
Di sinilah suasana novel berubah cukup drastis.
Kalau paruh awal 5 cm terasa seperti nongkrong bersama sekelompok teman yang mulutnya susah direm, paruh berikutnya berubah menjadi perjalanan alam yang semakin serius.
Mereka melewati Ranu Pane, berjalan menuju Ranu Kumbolo, menghadapi jalur yang melelahkan, udara dingin, carrier berat, Arcopodo, sampai pendakian terakhir menuju puncak Mahameru. Di hadapan gunung itu mereka mulai sadar bahwa keyakinan saja tidak cukup kalau kaki tidak mau berjalan. Genta menggambarkan perjalanan itu sebagai kebutuhan untuk berjalan lebih jauh, berbuat lebih banyak, menatap lebih lama, memiliki tekad lebih keras, dan terus berdoa.
Ini juga bukan petualangan yang dibuat seolah naik gunung adalah piknik akhir pekan.
Mereka diingatkan bahwa Mahameru bisa berbahaya. Dalam perjalanan, mereka bertemu pendaki lain yang menceritakan sahabatnya yang hilang di gunung beberapa tahun sebelumnya. Cerita itu membuat Genta bahkan mulai mempertanyakan apakah dirinya sudah cukup memperhitungkan risiko ketika membawa sahabat-sahabatnya ke sana.
Jadi ketika mereka akhirnya menuju puncak, pembaca sudah memahami bahwa perjalanan ini bukan sekadar demi foto keren.
Ada rasa takut di sana.
Ada kelelahan.
Ada kemungkinan gagal.
Dan ada alasan untuk terus berjalan.
Mahameru dan Nasionalisme yang Sangat “5 cm”
Puncak emosional novel berlangsung pada 17 Agustus.
Setelah perjalanan panjang dan segala kesulitan yang mereka hadapi, para tokoh akhirnya berada di Mahameru bersama para pendaki lain. Sang Merah Putih dikibarkan di ketinggian lebih dari 3.500 meter sementara orang-orang di puncak menyanyikan Indonesia Raya. Arial, Riani, Dinda, dan pendaki lain digambarkan tidak mampu menahan air mata.
Nasionalisme dalam bagian ini memang disampaikan dengan sangat terang. Tidak ada kode-kode halus yang perlu dibedah menggunakan teori sastra tiga semester.
Novel benar-benar bilang:
Indonesia itu indah. Cintai negeri ini. Jaga negeri ini. Bermimpilah untuk negeri ini.
Sederhana.
Bagi sebagian pembaca mungkin bagian ini terasa sangat sentimental. Tapi setelah mengikuti perjalanan panjang mereka dari Jakarta sampai Mahameru, sentimentalitas itu punya fondasi emosional yang cukup kuat. Riani, Ian, Arial, Zafran, dan Arinda bahkan mengutarakan kecintaan mereka terhadap Indonesia satu per satu setelah mencapai puncak.
Dan entah kenapa, rasanya sulit membaca bagian pengibaran bendera itu sambil tetap bersikap, “Ah, biasa saja.”
Minimal bulu kuduk sedikit bekerja.
Lalu, Sebenarnya Apa Arti “5 cm”?
Judul novel ini baru benar-benar mendapatkan maknanya menjelang akhir.
5 cm adalah sebuah metafora.
Saat memiliki mimpi, cita-cita, keinginan, atau sesuatu yang benar-benar ingin diperjuangkan, bayangkan semuanya berada lima sentimeter di depan kening kita.
Tidak menempel.
Sedikit menggantung.
Tetapi cukup dekat sehingga selalu terlihat.
Dengan begitu kita membawa mimpi itu setiap hari dan terus mengingat ke mana kita ingin pergi. Dalam adegan menjelang akhir, Ian dan teman-temannya menyebut prinsip itu sebagai cara menjaga mimpi tetap berada di depan mata: percaya, bangkit ketika jatuh, dan terus mengejarnya.
Ini mungkin bukan konsep motivasi yang rumit.
Malah sangat sederhana.
Tetapi justru karena sederhana, ia mudah tinggal di kepala.
Coba bayangkan kalau judul novel ini “Manifestasi Visual terhadap Persistensi Tujuan Jangka Panjang”. Barangkali belum sampai Mahameru, pembacanya sudah pulang duluan. 😄
“5 cm” jauh lebih mudah diingat.
Persahabatan, Tetapi Juga Tentang Cinta yang Berantakan
Satu hal lain yang membuat cerita lebih hidup adalah hubungan cinta para tokohnya.
Awalnya kita melihat Genta menyimpan perasaan terhadap Riani. Zafran terang-terangan menyukai Dinda. Tetapi menjelang akhir ternyata arah perasaan mereka jauh lebih rumit.
Ketika Genta akhirnya menyampaikan perasaannya, Riani dengan lembut mengatakan bahwa orang yang ia cintai bukan Genta.
Orang itu adalah Zafran.
Masalahnya?
Zafran justru mencintai Dinda.
Dan Dinda ternyata menyimpan perasaan kepada Genta.
Ya.
Lingkaran cinta ini lumayan lengkap. Tinggal dibuat bagan panah, sudah mirip soal logika masuk perguruan tinggi.
Namun Donny tidak menjadikan cinta sebagai akhir dari segalanya. Justru ada gagasan yang cukup dewasa bahwa mencintai seseorang tidak otomatis berarti kita harus memilikinya.
Dan waktu akhirnya melakukan pekerjaannya.
Pada bagian sepuluh tahun kemudian, pembaca diperlihatkan kehidupan mereka yang sudah jauh berubah. Arial hidup bersama Indy dan mempunyai anak bernama Arian. Zafran akhirnya menikah dengan Riani dan mempunyai anak. Genta menikah dengan Citra, sedangkan Arinda menikah dengan Deniek. Ian pun telah berkeluarga.
Yang menyenangkan adalah: setelah pekerjaan, pernikahan, anak-anak, dan sepuluh tahun berlalu, persahabatan mereka tidak benar-benar hilang.
Bahkan anak-anak mereka ikut tumbuh bersama.
Rasanya seperti melihat teman-teman lama yang dulu ribut soal hal remeh, sekarang sudah menjadi bapak dan ibu tetapi… ya, tetap agak ajaib.
Yang Saya Suka dari Buku Ini
Kekuatan terbesar 5 cm menurut saya adalah chemistry antartokohnya.
Dialog mereka terasa gaduh, tidak rapi, kadang tidak penting—persis percakapan sahabat sebenarnya. Humor muncul dari kebiasaan mengejek satu sama lain dan karakter tiap tokoh yang benar-benar berbeda.
Kekuatan berikutnya adalah perubahan suasana.
Novel bisa berpindah dari komedi tongkrongan ke percintaan, lalu masuk ke refleksi kehidupan, perjalanan alam, ketegangan, spiritualitas, dan nasionalisme. Anehnya, sebagian besar masih terasa berada dalam satu dunia yang sama.
Donny juga gemar memasukkan referensi budaya populer. Film, band, lagu, tokoh sejarah, filsuf, dan kutipan berseliweran hampir di mana-mana. Bahkan sejak awal novel sudah terlihat bahwa mimpi menjadi salah satu benang merah utamanya.
Bagi pembaca yang tumbuh pada era 1990-an sampai awal 2000-an, bagian ini bisa menjadi lorong nostalgia tersendiri.
Tapi Buku Ini Juga Tidak Sempurna
Nah, di sinilah kita sedikit menurunkan carrier dan duduk sebentar. 😄
Gaya penulisan 5 cm sangat khas zamannya.
Bahasa gaul seperti gue-lo, istilah anak tongkrongan, nama selebritas, film, lagu, dan berbagai referensi budaya populer muncul sangat banyak. Itu membuat ceritanya terasa hidup, tetapi sekaligus membuat beberapa bagian terasa sangat “awal 2000-an”.
Untuk pembaca sekarang, beberapa lelucon bahkan mungkin terasa agak berlebihan atau sudah tidak terlalu cocok dengan sensitivitas zaman sekarang.
Selain itu, Donny sering sekali memasukkan kutipan, lirik, pemikiran filosofis, dan kalimat motivasional. Bagi pembaca yang menyukainya, bagian ini bisa sangat mengena. Tetapi bagi pembaca yang lebih suka narasi ringkas, kadang muncul perasaan:
“Baik, saya paham pesannya. Kita lanjut jalan ke Mahameru sekarang boleh, kan?” 😄
Ada pula beberapa bagian reflektif yang cukup panjang sehingga ritme cerita melambat.
Namun hal tersebut sekaligus menjadi identitas 5 cm. Kalau semua bagian sentimental dan filosofis itu dipangkas habis, mungkin ceritanya lebih cepat—tetapi bukan 5 cm lagi.
Buku tentang Mimpi yang Tidak Berhenti pada Kata “Bermimpi”
Pesan yang paling saya sukai dari novel ini sebenarnya bukan “kejarlah mimpimu”.
Kalimat seperti itu sudah kita dengar ribuan kali.
Yang lebih menarik adalah bahwa 5 cm menghubungkan mimpi dengan tindakan.
Tokoh-tokohnya tidak sampai Mahameru hanya karena duduk di Jakarta sambil membayangkan puncaknya dengan kuat. Mereka naik kereta, berjalan berjam-jam, membawa beban, jatuh, kelelahan, ketakutan, lalu terus melangkah.
Karena itulah menjelang akhir buku muncul keyakinan bahwa mimpi dan keyakinan dapat mengubah kehidupan, tetapi manusia tetap harus memilih untuk memulai kembali dan membuat akhir yang lebih baik. Novel bahkan memperluas mimpi tersebut dari individu kepada bangsa: bangsa yang besar juga harus mempunyai mimpi.
Dan mungkin itulah alasan 5 cm bertahan begitu lama di ingatan banyak pembacanya.
Bukan karena plotnya sangat rumit.
Bukan pula karena tokoh-tokohnya sempurna.
Justru mereka konyol, jatuh cinta kepada orang yang salah, takut, minder, bingung dengan masa depan, dan sesekali melakukan hal bodoh.
Dengan kata lain: cukup manusia.
Penutup
5 cm adalah cerita tentang lima sahabat yang pada awalnya merasa telah mengenal satu sama lain luar-dalam, kemudian justru menemukan bahwa mereka masih perlu mengenal dunia—dan diri mereka sendiri.
Perjalanan menuju Mahameru kemudian menjadi semacam titik temu antara semuanya: persahabatan, cinta, ketakutan, mimpi, Tuhan, dan kecintaan terhadap Indonesia.
Apakah buku ini sempurna? Tidak.
Ada humor yang mungkin sudah menua, referensi pop culture yang sangat banyak, serta bagian motivasional yang terkadang terasa terlalu penuh.
Tetapi 5 cm mempunyai satu kelebihan yang sulit dibuat dengan teknik menulis apa pun: ia punya hati.
Setelah halaman terakhir ditutup, yang tertinggal bukan cuma pemandangan Mahameru. Ada keinginan kecil untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Sebenarnya, apa yang sedang saya taruh lima sentimeter di depan kening saya?”
Kalau setelah membaca sebuah novel kita sampai memikirkan pertanyaan itu, mungkin bukunya sudah berhasil melakukan tugasnya.
Rating pribadi: 4,3/5 ⭐
Bukan karena 5 cm adalah novel tanpa kekurangan, tetapi karena di balik segala kekonyolan lima sahabatnya, ia berhasil mengingatkan bahwa mimpi tidak harus langsung berada dalam genggaman. Kadang cukup kita letakkan sedikit di depan mata—lalu kita berjalan ke arahnya, satu langkah demi satu langkah.
Penulis: Donny Dhirgantoro
Penerbit: P.T. Grasindo
Terbit pertama: Mei 2005
Genre: Fiksi, persahabatan, perjalanan, inspiratif
Novel 5 cm merupakan novel pertama Donny Dhirgantoro. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2005 dan kemudian mengalami begitu banyak cetak ulang. Menariknya, Donny menjelaskan bahwa kisah perjalanan menuju Mahameru dalam novel ini berangkat dari pengalaman pribadinya bersama sahabat-sahabatnya.
Tapi kalau melihat sampulnya lalu mengira 5 cm cuma cerita tentang naik gunung, kita mungkin akan sedikit terkecoh.
Gunung memang menjadi panggung terbesar cerita ini. Namun sebenarnya yang sedang didaki oleh tokoh-tokohnya bukan hanya Mahameru. Mereka juga sedang “mendaki” diri sendiri: menghadapi ketakutan, rasa tidak percaya diri, cinta yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan, persahabatan yang terlalu nyaman, dan tentu saja mimpi-mimpi yang sempat terlupakan.
Dan di situlah buku ini menjadi menarik.
Lima Orang yang Terlalu Nyaman Menjadi Sahabat
Cerita berpusat pada lima sahabat: Genta, Arial, Riani, Zafran, dan Ian.
Mereka bukan kelompok sahabat yang anggun, puitis, lalu setiap bertemu membicarakan masa depan bangsa. Jauh sekali. 😄
Obrolan mereka bisa berpindah dari film, musik, filsafat, sepak bola, makanan, cinta, sampai topik-topik yang sama sekali tidak penting dalam hitungan detik. Mereka saling mengejek tanpa ampun, tetapi juga saling mengenal sampai ke bagian terkecil kehidupan masing-masing.
Arial adalah sosok yang cenderung tenang dan sederhana. Riani cerdas, kritis, banyak membaca, serta tidak gampang kalah dalam perdebatan. Zafran hidup di dunianya sendiri sebagai penyair dan anak band yang kadang terlalu puitis untuk ukuran manusia normal. Ian menjadi sumber banyak kelucuan tetapi sekaligus memiliki persoalan kepercayaan diri. Sementara Genta merupakan perekat kelompok—orang yang sering berada di depan ketika teman-temannya membutuhkan seseorang untuk mengambil keputusan.
Justru karena terlalu dekat, muncul satu masalah yang awalnya terdengar aneh:
mereka mulai bosan dengan persahabatan mereka sendiri.
Bukan bosan karena tidak lagi sayang. Sebaliknya, mereka terlalu nyaman.
Hidup mereka seperti berputar di lingkaran yang sama: lima orang, tempat yang sama, candaan yang sama, dan pembicaraan yang semakin sering terasa seperti pengulangan. Pada suatu malam muncul kesadaran bahwa mungkin mereka telah terlalu lama berada di dalam “gua” mereka sendiri.
Akhirnya Genta mengusulkan sesuatu yang cukup ekstrem: untuk sementara mereka tidak bertemu, tidak nongkrong, tidak menelepon, bahkan tidak berkirim SMS. Tujuannya sederhana tetapi menarik—keluar sebentar dari dunia berlima, melihat kehidupan lain, lalu kembali dengan pengalaman dan diri yang berbeda.
Mereka sepakat bertemu kembali pada 14 Agustus.
Dan menurut saya, bagian inilah salah satu gagasan paling bagus dalam 5 cm.
Novel ini seakan mengatakan bahwa kedekatan tidak selalu berarti harus terus-menerus bersama. Kadang kita justru perlu memberikan ruang kepada orang yang kita sayangi untuk bertumbuh.
Ternyata benar. Tiga bulan itu mengubah banyak hal.
Tiga Bulan yang Membuat Mereka Bertemu Diri Sendiri
Perpisahan sementara tersebut membuat masing-masing tokoh mempunyai ruang untuk menjalani kehidupannya sendiri.
Di antara mereka, perkembangan Ian terasa cukup kuat. Pada bagian awal cerita, Ian digambarkan memiliki rasa minder yang cukup besar. Ia bahkan pernah berusaha mendapatkan penerimaan kelompok dengan menjelek-jelekkan seorang teman kepada teman yang lain. Ketika masalah itu akhirnya dibicarakan, Ian mengakui bahwa perilakunya berasal dari ketakutannya tidak diterima oleh kelompok tersebut.
Perlahan Ian bergerak keluar dari pola itu. Ia mulai berjuang menyelesaikan kuliah dan skripsinya, memikirkan masa depannya, serta menemukan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Karena itulah 5 cm tidak benar-benar bercerita tentang “lima sahabat yang kompak”.
Lebih tepatnya, ini cerita tentang lima orang yang belajar bahwa persahabatan yang sehat bukan tempat bersembunyi dari kehidupan, tetapi tempat untuk kembali setelah kita berani menjalani kehidupan kita sendiri.
Itu bedanya.
Lalu Datanglah Sebuah Undangan Misterius
Setelah tiga bulan terpisah, kelima sahabat akhirnya bertemu lagi. Genta membawa sebuah rencana perjalanan yang sebelumnya dirahasiakan.
Dalam perjalanan itu bergabung pula Arinda atau Dinda, adik Arial.
Mereka naik kereta melintasi Jawa, lalu perjalanan perlahan membawa enam anak muda tersebut menuju satu tempat yang jauh lebih besar daripada tongkrongan mereka di Jakarta:
Mahameru.
Puncak tertinggi Pulau Jawa.
Di sinilah suasana novel berubah cukup drastis.
Kalau paruh awal 5 cm terasa seperti nongkrong bersama sekelompok teman yang mulutnya susah direm, paruh berikutnya berubah menjadi perjalanan alam yang semakin serius.
Mereka melewati Ranu Pane, berjalan menuju Ranu Kumbolo, menghadapi jalur yang melelahkan, udara dingin, carrier berat, Arcopodo, sampai pendakian terakhir menuju puncak Mahameru. Di hadapan gunung itu mereka mulai sadar bahwa keyakinan saja tidak cukup kalau kaki tidak mau berjalan. Genta menggambarkan perjalanan itu sebagai kebutuhan untuk berjalan lebih jauh, berbuat lebih banyak, menatap lebih lama, memiliki tekad lebih keras, dan terus berdoa.
Ini juga bukan petualangan yang dibuat seolah naik gunung adalah piknik akhir pekan.
Mereka diingatkan bahwa Mahameru bisa berbahaya. Dalam perjalanan, mereka bertemu pendaki lain yang menceritakan sahabatnya yang hilang di gunung beberapa tahun sebelumnya. Cerita itu membuat Genta bahkan mulai mempertanyakan apakah dirinya sudah cukup memperhitungkan risiko ketika membawa sahabat-sahabatnya ke sana.
Jadi ketika mereka akhirnya menuju puncak, pembaca sudah memahami bahwa perjalanan ini bukan sekadar demi foto keren.
Ada rasa takut di sana.
Ada kelelahan.
Ada kemungkinan gagal.
Dan ada alasan untuk terus berjalan.
Mahameru dan Nasionalisme yang Sangat “5 cm”
Puncak emosional novel berlangsung pada 17 Agustus.
Setelah perjalanan panjang dan segala kesulitan yang mereka hadapi, para tokoh akhirnya berada di Mahameru bersama para pendaki lain. Sang Merah Putih dikibarkan di ketinggian lebih dari 3.500 meter sementara orang-orang di puncak menyanyikan Indonesia Raya. Arial, Riani, Dinda, dan pendaki lain digambarkan tidak mampu menahan air mata.
Nasionalisme dalam bagian ini memang disampaikan dengan sangat terang. Tidak ada kode-kode halus yang perlu dibedah menggunakan teori sastra tiga semester.
Novel benar-benar bilang:
Indonesia itu indah. Cintai negeri ini. Jaga negeri ini. Bermimpilah untuk negeri ini.
Sederhana.
Bagi sebagian pembaca mungkin bagian ini terasa sangat sentimental. Tapi setelah mengikuti perjalanan panjang mereka dari Jakarta sampai Mahameru, sentimentalitas itu punya fondasi emosional yang cukup kuat. Riani, Ian, Arial, Zafran, dan Arinda bahkan mengutarakan kecintaan mereka terhadap Indonesia satu per satu setelah mencapai puncak.
Dan entah kenapa, rasanya sulit membaca bagian pengibaran bendera itu sambil tetap bersikap, “Ah, biasa saja.”
Minimal bulu kuduk sedikit bekerja.
Lalu, Sebenarnya Apa Arti “5 cm”?
Judul novel ini baru benar-benar mendapatkan maknanya menjelang akhir.
5 cm adalah sebuah metafora.
Saat memiliki mimpi, cita-cita, keinginan, atau sesuatu yang benar-benar ingin diperjuangkan, bayangkan semuanya berada lima sentimeter di depan kening kita.
Tidak menempel.
Sedikit menggantung.
Tetapi cukup dekat sehingga selalu terlihat.
Dengan begitu kita membawa mimpi itu setiap hari dan terus mengingat ke mana kita ingin pergi. Dalam adegan menjelang akhir, Ian dan teman-temannya menyebut prinsip itu sebagai cara menjaga mimpi tetap berada di depan mata: percaya, bangkit ketika jatuh, dan terus mengejarnya.
Ini mungkin bukan konsep motivasi yang rumit.
Malah sangat sederhana.
Tetapi justru karena sederhana, ia mudah tinggal di kepala.
Coba bayangkan kalau judul novel ini “Manifestasi Visual terhadap Persistensi Tujuan Jangka Panjang”. Barangkali belum sampai Mahameru, pembacanya sudah pulang duluan. 😄
“5 cm” jauh lebih mudah diingat.
Persahabatan, Tetapi Juga Tentang Cinta yang Berantakan
Satu hal lain yang membuat cerita lebih hidup adalah hubungan cinta para tokohnya.
Awalnya kita melihat Genta menyimpan perasaan terhadap Riani. Zafran terang-terangan menyukai Dinda. Tetapi menjelang akhir ternyata arah perasaan mereka jauh lebih rumit.
Ketika Genta akhirnya menyampaikan perasaannya, Riani dengan lembut mengatakan bahwa orang yang ia cintai bukan Genta.
Orang itu adalah Zafran.
Masalahnya?
Zafran justru mencintai Dinda.
Dan Dinda ternyata menyimpan perasaan kepada Genta.
Ya.
Lingkaran cinta ini lumayan lengkap. Tinggal dibuat bagan panah, sudah mirip soal logika masuk perguruan tinggi.
Namun Donny tidak menjadikan cinta sebagai akhir dari segalanya. Justru ada gagasan yang cukup dewasa bahwa mencintai seseorang tidak otomatis berarti kita harus memilikinya.
Dan waktu akhirnya melakukan pekerjaannya.
Pada bagian sepuluh tahun kemudian, pembaca diperlihatkan kehidupan mereka yang sudah jauh berubah. Arial hidup bersama Indy dan mempunyai anak bernama Arian. Zafran akhirnya menikah dengan Riani dan mempunyai anak. Genta menikah dengan Citra, sedangkan Arinda menikah dengan Deniek. Ian pun telah berkeluarga.
Yang menyenangkan adalah: setelah pekerjaan, pernikahan, anak-anak, dan sepuluh tahun berlalu, persahabatan mereka tidak benar-benar hilang.
Bahkan anak-anak mereka ikut tumbuh bersama.
Rasanya seperti melihat teman-teman lama yang dulu ribut soal hal remeh, sekarang sudah menjadi bapak dan ibu tetapi… ya, tetap agak ajaib.
Yang Saya Suka dari Buku Ini
Kekuatan terbesar 5 cm menurut saya adalah chemistry antartokohnya.
Dialog mereka terasa gaduh, tidak rapi, kadang tidak penting—persis percakapan sahabat sebenarnya. Humor muncul dari kebiasaan mengejek satu sama lain dan karakter tiap tokoh yang benar-benar berbeda.
Kekuatan berikutnya adalah perubahan suasana.
Novel bisa berpindah dari komedi tongkrongan ke percintaan, lalu masuk ke refleksi kehidupan, perjalanan alam, ketegangan, spiritualitas, dan nasionalisme. Anehnya, sebagian besar masih terasa berada dalam satu dunia yang sama.
Donny juga gemar memasukkan referensi budaya populer. Film, band, lagu, tokoh sejarah, filsuf, dan kutipan berseliweran hampir di mana-mana. Bahkan sejak awal novel sudah terlihat bahwa mimpi menjadi salah satu benang merah utamanya.
Bagi pembaca yang tumbuh pada era 1990-an sampai awal 2000-an, bagian ini bisa menjadi lorong nostalgia tersendiri.
Tapi Buku Ini Juga Tidak Sempurna
Nah, di sinilah kita sedikit menurunkan carrier dan duduk sebentar. 😄
Gaya penulisan 5 cm sangat khas zamannya.
Bahasa gaul seperti gue-lo, istilah anak tongkrongan, nama selebritas, film, lagu, dan berbagai referensi budaya populer muncul sangat banyak. Itu membuat ceritanya terasa hidup, tetapi sekaligus membuat beberapa bagian terasa sangat “awal 2000-an”.
Untuk pembaca sekarang, beberapa lelucon bahkan mungkin terasa agak berlebihan atau sudah tidak terlalu cocok dengan sensitivitas zaman sekarang.
Selain itu, Donny sering sekali memasukkan kutipan, lirik, pemikiran filosofis, dan kalimat motivasional. Bagi pembaca yang menyukainya, bagian ini bisa sangat mengena. Tetapi bagi pembaca yang lebih suka narasi ringkas, kadang muncul perasaan:
“Baik, saya paham pesannya. Kita lanjut jalan ke Mahameru sekarang boleh, kan?” 😄
Ada pula beberapa bagian reflektif yang cukup panjang sehingga ritme cerita melambat.
Namun hal tersebut sekaligus menjadi identitas 5 cm. Kalau semua bagian sentimental dan filosofis itu dipangkas habis, mungkin ceritanya lebih cepat—tetapi bukan 5 cm lagi.
Buku tentang Mimpi yang Tidak Berhenti pada Kata “Bermimpi”
Pesan yang paling saya sukai dari novel ini sebenarnya bukan “kejarlah mimpimu”.
Kalimat seperti itu sudah kita dengar ribuan kali.
Yang lebih menarik adalah bahwa 5 cm menghubungkan mimpi dengan tindakan.
Tokoh-tokohnya tidak sampai Mahameru hanya karena duduk di Jakarta sambil membayangkan puncaknya dengan kuat. Mereka naik kereta, berjalan berjam-jam, membawa beban, jatuh, kelelahan, ketakutan, lalu terus melangkah.
Karena itulah menjelang akhir buku muncul keyakinan bahwa mimpi dan keyakinan dapat mengubah kehidupan, tetapi manusia tetap harus memilih untuk memulai kembali dan membuat akhir yang lebih baik. Novel bahkan memperluas mimpi tersebut dari individu kepada bangsa: bangsa yang besar juga harus mempunyai mimpi.
Dan mungkin itulah alasan 5 cm bertahan begitu lama di ingatan banyak pembacanya.
Bukan karena plotnya sangat rumit.
Bukan pula karena tokoh-tokohnya sempurna.
Justru mereka konyol, jatuh cinta kepada orang yang salah, takut, minder, bingung dengan masa depan, dan sesekali melakukan hal bodoh.
Dengan kata lain: cukup manusia.
Penutup
5 cm adalah cerita tentang lima sahabat yang pada awalnya merasa telah mengenal satu sama lain luar-dalam, kemudian justru menemukan bahwa mereka masih perlu mengenal dunia—dan diri mereka sendiri.
Perjalanan menuju Mahameru kemudian menjadi semacam titik temu antara semuanya: persahabatan, cinta, ketakutan, mimpi, Tuhan, dan kecintaan terhadap Indonesia.
Apakah buku ini sempurna? Tidak.
Ada humor yang mungkin sudah menua, referensi pop culture yang sangat banyak, serta bagian motivasional yang terkadang terasa terlalu penuh.
Tetapi 5 cm mempunyai satu kelebihan yang sulit dibuat dengan teknik menulis apa pun: ia punya hati.
Setelah halaman terakhir ditutup, yang tertinggal bukan cuma pemandangan Mahameru. Ada keinginan kecil untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Sebenarnya, apa yang sedang saya taruh lima sentimeter di depan kening saya?”
Kalau setelah membaca sebuah novel kita sampai memikirkan pertanyaan itu, mungkin bukunya sudah berhasil melakukan tugasnya.
Rating pribadi: 4,3/5 ⭐
Bukan karena 5 cm adalah novel tanpa kekurangan, tetapi karena di balik segala kekonyolan lima sahabatnya, ia berhasil mengingatkan bahwa mimpi tidak harus langsung berada dalam genggaman. Kadang cukup kita letakkan sedikit di depan mata—lalu kita berjalan ke arahnya, satu langkah demi satu langkah.